Oct 20 2008

Mengejar Cita Cita…

Published by hidayat nurwahid at 15:03 under Tentang Saya and tagged:

Sewaktu tamat SD saya ingin sekali jadi dokter. Karena di tempat saya lahir di Prambanan, hanya ada satu dokter dan di kampung dimana saya tinggal hanya ada satu mantri kesehatan. Betapa mulianya mereka karena bisa membantu tetangga, bisa membantu sesama, memberikan obat, membantu kesembuhan penyakit. Saya ingin seperti mereka.

Eh… oleh ayah saya malah dikirim ke pesantren Gontor, ya sudah. Tapi waktu saya dikirim ke Gontor, yaa saya tidak menyesal, tidak pula menyesali ayah yang sudah mengirim saya ke sana. Disana saya belajar dengan serius hingga teman-teman pesantren menyebut saya dengan kutu buku, yaaa orang menyebut saya sangat rajin. Kalau di pesantren ada istilah sairolaya yang artinya begadang. Saya juga membentuk grup untuk qiyamul lail dan grup puasa senin-kamis dengan teman-teman saya. Dan jangan pernah membayangkan di pesantren, kalau makan dan minum seadanya yang ada di pesantren.
Di pesantren saya ikuti seluruh kegiatan, silat, kursus sastra inggris dan arab, termasuk jahit menjahit saya ikuti. Dan yang menjadi andalan saya adalah kegiatan pramuka. Setamat dari Gontor yaaa Alhamdulillah hasil raport saya kalau tidak peringkat satu yaa dua.
Selesai dari Gontor saya masih terobsesi menjadi dokter, lalu saya mendaftar di UGM. Tapi apa, kiai saya bilang: kalau kamu mau keluar negeri supaya bahasa arab kamu menjadi lebih baik, saya kasih ijazah.

Sesungguhnya pesantren saya tidak pernah mengeluarkan ijazah. Saya pikir dengan begini pesantren saya menolak untuk memberikan ijazah, tapi ternyata saya malah dikasih ijazah oleh kiai saya itu. Kemudian ada senior saya yang mendapatkan ijazah melalui kursus bahasa arab. Dia mengatakan, kok ijazah daro Gontor cuma digunakan di dalam negeri yaa mubazir. Akhirnya senior saya itu mengambil ijazah saya dan mengirimkannya ke Madinah. Jadi bukan saya yang mengirim ijazah ke Medinah, senior saya yang kirim. Dan jadilah saya kuliah di Madinah. Disana saya sempat ikut organisasi, menjadi pemimpin persatuan pelajar Indonesia di Saudi Arabia. Saya juga aktif di olahraga, saya termasuk orang yang membuat lapangan badminton di kampus. Sampai saat ini saya masih main badminton. Saya juga pernah ikut lomba balap lari di padang pasir. Pernah ketika berlari di padang pasir di pagi hari saya dikejar anjing serigala. Saya pikir sudah berlari di padang pasir, dikejar anjing juga…

Terus terang Saya agak takut juga dikejar anjing serigala waktu itu. Tapi saya teringat di Indonesia kalau dikejar anjing, kita duduk anjingnya balik. Mungkin ini spekulatif, tapi mungkin juga ada bahasa internasional para anjing. Jadi begitu dikejar, saya duduk. Ternyata anjing itu berhenti dan balik lagi tidak jadi mengejar. Ternyata memang sama bahasanya sesama para anjing. Anjing-anjing itu kabur dan selamatlah saya.

Di Madinah pun saya aktif mengikuti kegiatan olahraga, organisasi, pramuka dan belajar juga saya giatkan. Dan demikianlah saya mengikuti kuliah jenjang S1 dan S2 tanpa pernah meminta, bahkan saat S2 saya minta pulang karena ingin berdakwah di tanah air. Tapi apa daya, saya kembali dipaksa kuliah melanjutkan ke S3. Mungkin satu-satunya di dunia kuliah S3 yang dipaksa, maksanya pun pake merayu segala. Oleh dosen pembimbing saya diajak keliling kota Madinah oleh mobil pribadinya, beliau sendiri yang menyetir. Beliau Direktur Pasca Sarjana di Universitas Madinah. Sepanjang jalan belau merayu saya supaya mau masuk program S3. Seluruh argumentasi beliau bisa saya jawab. Hanya satu yang tidak bisa saya jawab yakni ketika beliau mengatakan: anda kok ngotot mau pulang?apakah anda sudah mumpuni, seluruh ilmu sudah anda kuasai sehingga anda tidak pelu lagi belajar? Dengan pertanyaan itu, saya mati kutu. Siapa yang sudah mumpuni, siapa orang yang sudah tidak perlu ilmu lagi?

Justru kata kiyai saya, kalau anak-anakku pulang ke masyarakat, itu artinya anak-anakku akan belajar lagi ilmu dari masyarakat. Dia akan belajar lagi. Saya terdiam, dan kemudian beliau memerintahkan besok masukkan proposal ke program S3. Dan akhirnya masuk. Dengan begitu semakin jauh lah cita-cita saya. Dari awal menjadi dokter akhirnya menjadi doctor.

Ketika pulang ke Indonesia, saya inginnya pulang ke Yogyakarta dekat dengan prambanan, tempat dimana saya dilahirkan. Tapi apa boleh buat, sekali lagi cita-cita saya kandas di tengah jalan. Teman-teman saya di Jakarta “megangin tangan” saya. Sudah di Jakarta saya inginnya jadi aktivis, jadi dosen. Eh…kawan-kawan justru bikin partai. Pendapat saya waktu itu kita jangan buat orpol dulu ormas saja. Supaya gak lompat jauh dari LSM ke Parpol. Tapi ternyata tidak. Gak lama bikin ormas lalu bikin orpol. Kan lompatnya jauh. Suara saya di Syuro kalah. Apa boleh buat saya harus mengikuti hasil syuro itu. Setelah kalah suara justru disuruh menjadi deklarator, disuruh menjadi presiden…presiden partai maksud saya.

Itu semuanya diluar dari apa yang saya cita-citakan. Karenanya berprestasi atau nggak, gak ngerti saya. Karena semua yang saya ceritakan diluar dari cita-cita saya. Tapi selama ini yang saya lakukan ketika mendapatkan posisi, apapun itu, saya laksanakan dengan maksimal. Mulai dari kuliah S1, S2, S3 justru yang mengajukan bukan saya. Saya belajar dengan maksimal ditempat dimana saya diamanahkan di sana. Sampai akhirnya saya menjadi Ketua MPR ya sudah, saya terima apa adanya. Dulu saya gak pernah baca Undang Undang Dasar, gak pernah tahu ayat-ayat kecuali ayat Al Qur’an dan ayat-ayat cinta. Sekarang ini, “terpaksa” saya harus baca dan bahkan menghapal UUD 1945 diluar kepala. Kalau sekarang kita berdebat soal Undnag Undang yaaa, inysa Allah saya bisa mengalahkan anda. Otomatis, itu yang saya lakukan, memaksimalkan pekerjaan. Jadi kalau boleh disebut, apa yang saya lakukan , apapun amanah yang saya dapat, saya mengerjakannya dengan maksimal. Menurut saya berapa jam tidurnya tidak menjadi ukuran orang bisa berprestasi atau tidak. Sesuaikan saja dengan tantangan pada hari itu apa.




38 Responses to “Mengejar Cita Cita…”

  1.   antieon 20 Oct 2008 at 16:01

    Salam kenal Pak Nur wahid..

    Saya salut dengan semangat bapak…
    mudah2an suatu saat bapak bisa menjadi dokter y pak..:)

  2.   yanson 20 Oct 2008 at 16:02

    Assalamu’alaikum,

    Wah salut buat Bapak Hidayat, saya kagum dengan story bapak.
    dan saya juga kagum dengan Kepemimpinan Bapak
    Semoga bapak sehat selalu dan siap sebagai Anak bangsa yang selalu memegang Amanah untuk memajukan bangsa yang kita cintai ini. Amin

    wassalam

    yans
     yans.blogdetik.com

  3.   andrion 20 Oct 2008 at 20:30

    yah saya juga punya pengalaman seperti Bapak. Mudah-mudahan cerita bapak menjadi semangat bagi kita semua amin.

  4.   Agus Suhartonoon 21 Oct 2008 at 11:51

    alhamdulillah ya ustadz,

    walau nggak jadi dokter
    tetapi sekarang sudah dikaruniai istri dokter.

    :D

    smoga tetap amanah, amin

  5.   Silmikaffaon 22 Oct 2008 at 03:07

    Wow…managemen waktunya gimana yak?

    Usul ustadz, ketikan antar alineanya dipisahkan agak jauh. Kayak ana nih,dikosongin satu baris. Biar ‘easy on eyes’ gitu.

    Nuhun, ustadz!
    Jazakumullâh…

  6.   Rois Muslimon 22 Oct 2008 at 09:19

    Ass. Wr. Wb.

    Judulnya yg pas menurut saya adalah : Di-kejar Cita-cita.
    2009 nanti banyak orang yg ingin ME …. (mengejar, memimpin, me-ngharap, me-mohon dsb)…

    2009 nanti semua rakyat juga ingin ME …(memberi, me-ndukung, me-lihat dsb).

    Menurut saya, pasangan kata depan : ME adalah DI.
    Saran saya, Pak Ustadz cukup sudah menempatkan posisi pada menjadi : DI… daripada menjadi : ME….

    Ach, dunia Indonesia… sudah saat nya nanti, Rakyat kita berbalik, menginginkan DI … (Dilayani, Diperhatikan, dsb).
    Mungkin, saat2 seperti itulah para Pemimpin2 sudah seharusnya menjadi ME … (Melayani, Memberi dsb).

    Salam,
    Rois M

  7.   ekaon 22 Oct 2008 at 10:58

    subhanallah ya ustadz….
    bisa dijadikan suri tauladan yang baik….
    prinsipnya bagus juga untuk ditiru…

  8.   Ridwanfaridon 22 Oct 2008 at 11:28

    cerita yang sangat bagus..dan dapat memberikan inspirasi..utamanya generasi muda..selamat..anda udah “diatas” dokter…

  9.   Rinaon 22 Oct 2008 at 13:27

    Pak Hidayat…artikel Bapak sangat inspiring….baguusssss sekali.
    Oya Pak…menurut rumor yang beredar di luaran, katanya Bapak (dan PKS) akan berkoalisi dengan salah satu partai besar di Indonesia…jangan dong Pak….pleasssseee….
    PKS tetep aja sendiri ya Pak…keep on being istiqomah….

    Wassalam,
    Rina

  10.   Rudi Wahyudion 23 Oct 2008 at 09:03

    nasib saya lebih ‘ ga ngerti lagi ‘ ustad,

    saya ngejar cita-cita ga dapat, cita-cita nya juga ga mau ngejar-ngejar saya. ya udah, jadi saling nunggu aja :)

    nb :
    kapan ya, bisa ketemu lagi. ustad, kalo saya kumpulin alumni Husnul Khatimah angkatan 2, mau datang ga untuk kasih taujih ?

  11.   mayaon 23 Oct 2008 at 14:38

    kan sudah dapat dokter, pak… lebih kurangnya, berarti cinta2 bapak dikabulkanNYA juga.
    semoga sukses & bahagia. :)

  12.   mayaon 23 Oct 2008 at 14:38

    eh, maksud saya: “cita2″.
    tapi “cinta2″ cocok juga. :)

  13.   abdullah arifiantoon 23 Oct 2008 at 15:19

    salamualaikum,

    minta izin meletakkan alamat blog ini dalam link saya…

    Jzklh

  14.   hnw-hbw9+1on 24 Oct 2008 at 14:54

    Ass..Wr..Wb.
    Semoga sehat selalu..Ane hanya usul hehe
    Terima kasih Ustadz.
    Wass..Wr..Wb..

  15.   tren di bandungon 24 Oct 2008 at 19:07

    pengalaman ustadz yang sudah tersusun. menjadi pengalaman buat kami untuk segera turun. memperbaiki diri, keluarga, masyarakat dan negara secara beruntun.
    menjadi blogger adalah idealisme tentang membangun. berpikir dan menulis dengan kebaikan dan kebenaran yang menuntun. diekpresikan dengan niat baik dan cara yang santun. kalau bisa dengan konsep blog yang spesifik yang berbeda dan membentuk sebuah rumpun. untuk suatu kebutuhan yang definitif, efektif dan membuat kita tertegun. demi tujuan mulia membentuk peradaban dengan masyarakat yang rukun.
    untuk seperti itu, banyak dari kita yang tetap harus belajar tekun. terus memperbaiki diri sampai tidak ada cela sedikitpun. sehingga masyarakat, bangsa dan alam semesta ini mengakui para blogger sebagai kampiun yang hadir dengan solusi yang dahsyatnya minta ampun.
    kalau begitu coba dinilai blog saya yang baru tiga bulan mengalun. apakah sudah baik sebagai sebuah akun?

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/23/amerika-krisis-indonesia-bangun/

  16.   Sang Lebahon 24 Oct 2008 at 19:49

    Salut dengan jalan hidup bapak, banyak menebar manfaat bagi banyak orang. Saya suka dengan gaya bapak yang rendah hati. semoga selalu sukses. salam dari peternak lebah madu

  17.   M. Wellyanon 26 Oct 2008 at 08:37

    Assalamu’alaikum wrwb.

    Salam kenal Pak Hidayat. Kadangkala apa yang kita rencanakan/cita-citakan tidak selalu menjadi apa yang kita dapatkan. Allah SWT lebih mengerti apa yang terbaik bagi hamba-Nya, walaupun kita selalu kurang menyadari fakta ini.
    Saya contohnya, tidak pernah membayangkan untuk menjadi seorang apoteker, yang notabene kurang begitu “populer” dibandingkan dokter. Tapi setelah saya jalani profesi ini lebih dalam, saya merasa mungkin saya lebih cocok menjadi apoteker daripada menjadi seorang dokter, hingga jadilah saya seperti sekarang ini. Memang Allah SWT tahu yang terbaik bagi kita semua, karena masing-masing kita punya peran yang amat spesifik di dunia ini, seperti kepingan-kepingan puzzle yang saling melengkapi.

    Sukses untuk Bapak!
    Wassaalamu’alaikum wrwb.

    M.Wellyan
    Apoteker di http://www.apoteker.info

  18.   Ruswandion 27 Oct 2008 at 16:03

    Sangat inspiratif sekali, perjalan hidup Ustad. Semoga pahalanya berlipat-lipat-lipat! Amien

  19.   kresna yoga pramonoon 28 Oct 2008 at 19:25

    assalamualaikum.
    akhirnya ana bisa menemukan blog ustadz. alhamdulillah. salam kenal ustadz.
    silaturahim ya ke website kami
    http://www.titianhidayah.de
    mudah2an bisa memberikan saran dan masukan terhadap usaha kami.
    tulisan antum di atas adalah terwujud dari keaslian hati antum, bukan berdasarkan hasil editan. intinya adalah ana bangga kalo antum menjadi ‘dokter’ bagi ummat islam di indonesia ini. melayani, mengobati, bahkan me rawatnya sampai sembuh

    wassalamualaikum

  20.   Misyka Humairaon 30 Oct 2008 at 06:39

    Assalamu alaikum..

    pak ustadz..saya sering sekali nonton acara debat dan cover story di tvone..seperti tadi malam ada debat yg bertema muzahid atau teroris..kenapa sih yang sering di publikasikan selalu Islam dengan tema2 yang sebagian kalangan menilainya adalah sisi negatif dari islam, sudah berkali2 tvone menayangkan hal2 serupa ke publik dengan tema lain, dan biasanya mempertemukan 2 kubu islam yang saling bertentangan..saya sangat khawatir teman2 umat yang aqidahnya pas2an, akan semakin bingung dan akhirnya keluar dari islam, karna menganggap islam adalah agama yang memiliki banyak sekali sisi negatifnya…mohon kepada ustadz agar memberikan masukan kepada tvone, karna saya pikir masih banyak masalah2 yang sifatnya nasionalis yang layak di pergunjingkan ke media..sekali lagi saya juga meminta kepada semua rekan2 pks yang duduk sebagai anggota dewan untuk memperhatikan masalah ini…karna saya teramat sangat mencintai islam, dan saya hanya percaya kepada partai nya pak ustadz yang bisa membantu masalah2 seperti ini..

    terima kasih
    wassalamu alaikum

  21. [...] kemarin berkunjung ke kediaman beliau, diantaranya tentang makna 80 tahun sumpah pemuda, tentang cita-cita beliau sejak kecil yang tidak tercapai akan tetapi mendapatkan istri yang sesuai dengan cita-cita [...]

  22.   evyon 05 Nov 2008 at 12:08

    Assalamualaikum Wr.Wb.

    Wah, saya salut dengan cerita pengalaman hidup bapak. Memberikan inspirasi untuk selalu mengembangkan diri dengan tetap berada di jalan Allah. Membaca pengalaman bapak mengingatkan saya pada pengalaman bapak saya yang kebetulan juga merupakan alumni Universiti Al-Azhar, Cairo.

    Terima kasih ya karena telah sudi berbagi cerita pengalaman hidup bapak sehingga dapat juga menjadi semacam pendorong semangat bagi kami para generasi muda. Semoga bapak dapat menjadi pemimpin yang berjiwa Islami dan tetap istiqomah di jalan Allah, amien…………… :)

  23.   heri setiawanon 09 Nov 2008 at 11:11

    Menarik sekali… semoga elit2 yang lain bisa mencontoh bapak…

  24.   Mihror Dendi Pon 10 Nov 2008 at 09:09

    Asalamualaikum.

    Pak Hidayat mohon doanya ya!!!, saya juga ingin cerdas seperti bapak.

  25.   sahabat Bapakon 10 Nov 2008 at 11:49

    Semoga sahabat-sahabat di PKS banyak mencontoh tawadhu’ Bapak, low profile dan adem.
    Melihat wajah Bapak hati jadi adem, ayem. Semoga PKS menjadi partai yang menyatukan hati umat Islam, dan bukan sebaliknya memecah belah umat Islam. Terutama kader-kadernya yang masih belajar jangan sampai main serobot milik orang lain saat kampanye. jadikanlah ketenangan Pak Hidayat sebagai tauladan.
    Terima kasih Pak, semoga selalu sehat, amin.

  26.   kejujuranon 10 Nov 2008 at 11:54

    Salut Pak, cerita hidup yang mengalir. Dan setuju sekali dengan “sahabat Bapak”, seandainya kader-kader PKS mempunyai sifat yang tawadhu’, mau mengamalkan ukhuwah islamiyah yang sebenar-benarnya, dan hidupnya dinafkahkan untuk ’semua umat’. Alangkah bahagianya.
    Semoga kehidupan Bapak selalu dijaga dari godaan-godaan duniawi, semoga Bapak selalu istiqamah dan selalu menjadi inspirasi bahwa Islam itu agama rahmah.
    Salut Pak, menjadi orang yang diamanahkan jabatan tinggi tapi tetep bisa hidup sederhana. Kader-kader yang lain mampu ga ya?
    Salam untuk keluarga semua Pak.

  27.   anisaadon 12 Nov 2008 at 13:17

    Assalamu’alaikum ustadz

    membaca cerita pengalaman pa ustdaz,ana mendapatkan inpirasi bahwa segala sesuatu perlu pengorbanan dan kerja keras,mungkin pak hidayat tidak bisa duduk dikursi MPR tampa kerja keras,,,ketawadhuan dan rendah hati ustadz memberikan contoh bagi kalangan lainnya,,,mencari pemimpin yang rendah hati bijaksana,dan bertanggung jawab untuk zaman saat ini sangat sulit, tetapi memungkin masih ada pemimpin yang rendah hati,bijaksana,sederhana,dan selalu memberi pandangan positip bagi orang lain,ustadz ana dengar antum bersedia menjadi cawapres mendampingin mega wati?bukankah dalam islam pemimpin itu seorang laki2,seperti yang disampaikan morobbi saya pada pemilu 2004,kalau itu terjadi artinya pks menjilat lidahnya sendri,saya harap itu semua hanya isu belaka,,,,
    aku cinta Allah swt,
    aku cinta Rasullah saw,
    aku cinta Alqur’an,
    aku cinta Jihad,
    aku cinta PKS,
    aku rindu akan kebanaran
    good louk…pks,

  28.   Krisnaon 13 Nov 2008 at 01:49

    Assalamu’alykum Ust.

    Luar Bias semoga tetap Istiqomah dan selalu luruskan ni’at.

    Ustadz, saya mau tanya kenapa pada slide show kok ada gambar Ustadz sedang ber jabat tanggan dengan wanita.

    tapi saya minta maaf kalo pertannyan ini kurang pas pada kolom ini, tapi kalau bisa tolong di jelaskan.

    Semoga Alloh selalu meRahmati dan meRidho’i kita semua , Amiin

  29.   Alexon 21 Nov 2008 at 10:52

    subhanallah…..senang dan bahagia sy membaca cerita bapak ini…..senaaaaaaaaaaaaaaang banget….

    seorang Hidayat Nur Wahid juga ikut berbaur dan goro ama masyarakat……….salut..benar salut..mana ada pemimpin di negeri ini yg mau seperti ini…..

    jika ada kesempatan kunjungi blog sy yah pak :)

  30.   abuhusam garuton 29 Nov 2008 at 08:49

    aslm. wr. wb
    ustad kumaha damang…? hapunten abdi orang sunda.
    pami aya kawantun badminton diantos di garut…..hatur nuhun.

  31.   Faruq Djunedon 04 Dec 2008 at 13:15

    ustadz, ‘affan sebelumnya. ikut coret-coret blog antum. seringkali saya bayangkan, saya renungi, bahwa kamar saya, bangku kelas yang saya duduki, lapangan hijau, masjid jami’, BPPM, dapur dsb, dulunya pernah diduduki orang sehebat antum. ya doakan, semoga saya ketularan hebat dan pinternya ust. saya doakan semoga selalu sehat dalam mengemban tugas agama, negara dan bagsa. amin..

  32.   M. Agus Wibowoon 20 Dec 2008 at 09:06

    Jujur aja dengan adanya blog ini sy makin dekat dengan HNW biarpun belum pernah jabat tangan… (ngarep mode on)
    Hanya sering lihat tampil di acara dan di TV, dan memang yang tidak pernah berubah yaitu ke tawadhuan beliau….Semoga sy bisa mencontohnya (ngarep mode on 2, ;))
    Mo comment dikit aja,
    Ga jadi Pak Dokter tapi sekarang jadi suami dokter……life is mystery…
    keep on track pak…..

  33.   Budi Herprasetyoon 18 Jan 2009 at 07:43

    Pak Nurwahid, salam dari jawa timur…
    Sudah saatnya pak, bangsa ini memiliki pemimpin yang mampu memimpin dengan hati. Saya belum tahu rasanya jadi pemimpin sekaliber bapak. Tapi yang saya tahu, pemimpin-pemimpin besar lahir dari kelembutan hatinya dan ketegasan sikapnya. Berada di depan rakyat dan tidak menjadikan rakyat sebagai tameng kekuasaan.

    Tetap semangat pak, dan terus jadilah suri tauladan bagi generasi muda !

    Salam sempurna !

  34.   asihon 27 Jan 2009 at 19:22

    subhanalloh ustadz..terimakasih telah menjadi sumber inspirasi..

  35.   anonimon 29 Jan 2009 at 22:58

    anda tidak akan menang, jika hati anda masih dipenuhi kebencian terhadap kaum lain, ibu pertiwi tidak memerlukan orang seperti anda. Anda mungkin sudah punya gelar dan kedudukan yang termasyur, tampak begitu tinggi, tapi terlihat seperti orang yang kehilangan arah dan haluan. bagaimana mungkin bangsa ini bisa bergantung dengan orang seperti anda yang tidak pernah peduli dengan kondisi negeri ini, yang dipikirkan hanyalah memaksakan kehendak, dogma dan aliran anda. Palestina kau pedulikan, saudaramu disini pak, bukan disana. Saya juga turut prihatin dengan kondisi yang terjadi disana, atas dasar nilai kemanusiaan. Tapi yang anda lakukan tetap atas dasar pembelaan agama. Saya yakin jika orang seperti anda memimpin negeri ini, yang ada hanyalah pertikaian, permusuhan, dan kehancuran, karena tujuanmu hanyalah mewujudkan cita2mu yang tidak luhur.

    wassalam

  36.   Istiqamah-Sajaon 04 Feb 2009 at 17:59

    assalamu’alaikum wr wb,

    beberapa waktu lalu, sedih saya membaca salah satu pendapat simpatisan PKS yang mengatakan bahwa politik adalah tipu daya,

    baiklah bila politik sangat risiko tinggi untuk hal-hal negatif, tapi bukankah PKS sebagai salah satu partai dakwah seharusnya tidak ikut-ikutan menggunakan tipu daya dalam politik dakwahnya?

    berita terakhir tentang kasus asusila yang melibatkan anggota dewan, Akhi Z dari DPRD Jambi, yang juga sekarang maju kembali menjadi Caleg Jambi Timur, justru di bayan oleh Mabruri dari PKS seakan-akan menafikannya dengan mengatakan bahwa itu hanyalah simpatisan PKS yang berbuat asusila

    cek di :

    http://pemilu.inilah.com/berita/2009…ernya-maksiat/

    bagaimana komentar mabruri yang mengatakan yang tertangkap adalah simpatisan,
    sedangkan yang tertangkap adalah anggota DPRD dari FPKS, dan sekarang maju kembali menjadi Caleg PKS dari Jambi Timur.

    silakan lihat dan bandingkan beritanya di :

    http://www.jambi-independent.co.id/home/modules.php?name=News&file=article&sid=10812

    pembelaan pks pun terkesan ngawur, dengan beralibi bahwa yang tertangkap adalah simpatisan, padahal yang tertangkap adalah kader, anggota dprd jambi, bahkan menjadi koordinator lapangan one man one dollar untuk palestine di wilayah Jambi,

    bagaimana pendapat masyarakat untuk menyumbang Palestina lewat PKS, masih amanah tidak? atau malah disalahgunakan?

    harapan ana,

    sebaiknya untuk PKS ke depan, baik oknum petingginya maupun kader/simpatisannya yang militan meninggalkan politik tipu daya dalam memberikan informasi kepada masyarakat, maaf, masyarakat semakin cerdas tidak bisa dibohongi oleh pelintiran informasi walaupun resmi.

    wassalam wr wb.

  37.   Amelon 07 Feb 2009 at 19:21

    Subhanallah

  38.   abu dan ummu sajidon 17 Feb 2009 at 06:16

    Assalammualaikum wr wb
    Ustad, mohon doa buat anak2 kami Muhammad Dzakwan Sajid dan Muhammad Taqy Alfaqih menjadi anak-anak yang soleh, cerdas dan bermanfaat untuk umat seperti ustad bahkan lebih. Kami orang tuanya dua-duanya dokter tapi kadang ingin mereka kuliah di bidang agama menjadi seorang hafidz dan mendalami agamanya. Tapi menjadi dokter atau teknokrat atau yang bermanfaat lainnya yang hafidz juga boleh juga.. :) Mohon doa khusus buat kami ya ustad..

    Wassalam

    Abu dan ummu sajid

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply