Sep 07 2008
Bercengkrama dengan Allah SWT
Bismillahirrahmanirrahim
Rekan-rekan yang saya hormati,
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ini adalah hari berikutnya dari hari-hari kita bertemu dan mengisi kehidupan bersama dengan tamu agung kita, bulan Ramadhan. Kemarin kita sudah membahas bagaimana bulan Ramadhan ini membuat kita menjadi rindu kepada Al Qur’an, rindu untuk kemudian membacanya, rindu untuk mempelajarinya, rindu untuk kemudian menyebarluaskannya. Tentu antara membaca dan menyebarluaskan ada sesuatu, fase itu yang disebut sebagai fase memahaminya untuk kemudian melaksanakannya. Karena memang, Rekan-rekan, anda sebagai kalangan profesional, anda pasti sangat menyadari dan mengetahui bahwa tidaklah mungkin, siapapun, apakah namanya para pakar, atau para praktisi, atau para aktivis, tidaklah mungkin mereka bisa meyakinkan publik tentang kebenaran nilai yang ia bawa, ia perjuangkan, tentang teori yang sedang mereka kaji, kalau mereka sendiri tidak mewujudkan nilai itu hadir, konkrit dalam dirinya. Untuk itulah karenanya salah satu yang menjadi sifat utama Rasulullah saw, beliau pernah dinyatakan oleh isteri tercinta beliau Aisyah r.a sebagai “Kana kuluquhu Al Qur’an”. Akhlaknya Rasulullah, etikanya Rasulullah adalah Al Qur’an itu sendiri. Sehingga sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Rasulullah adalah Al Qur’an yang berjalan.
Rekan-rekan, bagaimana menjadikan Al Qur’an sebagai sesuatu yang real, konkrit, hadir ditengah kita dan membuat kita menjadi memerlukan kepada Al Qur’an dan kemudian menjadikannya sebagai tangga-tangga berikutnya menuju kepada realisasi dari tujuan berpuasa, yaitu mewujudkan manusia yang unggul dan manusia yang bertaqwa itu. Salah satu diantara hal yang harus kita pertimbangkan adalah terkait dengan adab-adab berinteraksi dengan Al Qur’an, etika berinteraksi dengan Al Qur’an. Dalam kitab-kitab kuning disebutkan “Adab hamalat fi Al Qur’an” atau etika berkomunikasi, berinteraksi dengan Al qur’an oleh mereka-mereka yang concern betul dengan nilai-nilai Al Qur’an.
Rekan-rekan, kalau kita membaca kitab-kitab kuning yang jadi tradisi di kalangan pesantren dan/atau kitab kuning itu sudah dicetak juga dalam cetakan yang baru sehingga disebut juga sebagai kitab yang putih yang bisa kita rujuk sebagai etika berkomunikasi berinteraksi membaca Al Qur’an. Etika yang pertama menurut para ulama, ahli tafsir, termasuk yang disampaikan juga oleh Imam Al Qurtubi, Imam Ibnu Taimiyyah, maupun ulama-ulama kontemporer yang lain seperti Sayyid Qutub, maupun juga Hasan Al Banna, mereka mengatakan bahwa diantara etika yang penting adalah pertama, keyakinan dan kesadaran bahwa Al Qur’an itu sesungguhnya adalah memang dulu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tetapi sekarang ia anda baca. Karenanya, yakinilah, pahamilah bahwa Al Qur’an itu memang sedang mengajak anda berbicara. Al Qur’an sedang mengajak anda berdialog. Al Qur’an diturunkan kepada anda. Yakinilah bahwa seolah-olah di dunia ini hanya ada anda sendiri dan karenanya seolah-olah Al Qur’an hanya diturunkan kepada anda saja, seolah-olah Al qur’an hanya mengajak anda saja yang diajak untuk berbicara.
Rekan-rekan, kalau kesadaran ini hadir, kalau kesadaran ini bisa kita munculkan, luar biasa maknanya. Bisa anda bayangkan dari sekian ratus juta, atau sekian milyar umat Islam di dunia, anda merasa bahwa Al Qur’an ini hanya berbicara kepada anda saja. Padahal Al Qur’an ini adalah sesuatu yang muncul, dimunculkan bersumberkan Allah, zat yang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Tahu, Maha Bijak, Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha sumber dari segala kebaikan. Anda bisa bayangkan, jangankan dengan sosok yang begitu bermaha dalam segala kebaikannya, kalau saja anda dalam perusahaan anda, atau di kampus anda, atau dimana saja, kalau anda diajak berbicara sendirian saja oleh mungkin atasan anda, mungkin suami atau isteri anda, mungkin tokoh yang anda idolakan, pasti anda sangat berbunga-bunga. Pasti anda akan mencatatnya sebagai peristiwa yang luar biasa menariknya, luar biasa pentingnya. Pasti akan anda jadikan peristiwa itu sesuatu yang membekas dalam diri anda. Anda akan siapkan diri bertemu dengan sosok agung ini dan kemudian anda akan berkonsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh tokoh yang anda idolakan itu, atau anda hormati itu, dan pasti anda akan dengar dengan baik-baik, pahami dengan baik-baik, anda akan catat dengan baik-baik untuk kemudian anda akan laksanakan dengan semaksimal kemampuan yang anda miliki.
Anda pasti akan merasa sangat bersalah, sangat menyakiti kepada orang yang anda tokohkan bila anda tidak melaksanakan apa yang disampaikan oleh sang tokoh yang anda idolakan itu. Anda justru akan semakin merasa bangga, akan semakin merasa dekat dan cinta dengan yang anda tokohkan itu ketika anda bisa melaksanakan apa yang dinyatakan, disampaikan, dinasehatkan atau diberikan masukan oleh tokoh yang anda idolakan itu.
Manusiawi saja, karena begitulah memang sifat kemanusiaan kita. Dan bandingkan, kiaskan saja, analogkan saja sekarang yang mengajak anda berbicara bukan sekedar tokoh yang idola, yang mungkin hari ini idola besok mungkin sudah menjadi tidak lagi anda idolakan karena mungkin dia berobah, yang bukan hanya tokoh yang mencintai anda sesaat saja, bukan hanya tokoh yang hanya berkuasa hanya sementara saja atau pengetahuannya hanya terbatas saja. Ini yang mengajak anda berbicara secara pribadi, secara spesifik adalah tokoh Allah SWT, zat yang maha segala kebaikan. Luar biasa. Kalau ini bisa kita hadirkan dalam semangat kehidupan kita sesungguhnya kita sedang menyiapkan diri untuk meretas jalan menjadi “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa allamahum”, yang paling baik dari anda semuanya adalah mereka yang selalu membaca Al Qur’an, mempelajari Al Qur’an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Hari-hari ini adalah hari-hari dimana kita mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berdialog sendirian, atau merasa hanya kepada kita saja Allah sedang berbicara. Selamat berkasi-kasihan dengan Allah SWT, selamat berdialog berduaan saja dengan Allah SWT, dengan anda membaca Al Qur’an. Kita bertemu besok pada kesempatan yang sama.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Amiin..
sebisa mungkin memang harus menyempatkan diri membaca alQuran..
baca koran tiap hari aja kita sempat kok..
Subhanallah…..
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah atas segala nikmat Allah sehingga saya bisa bersua Bapak Hidayat Nur Wahid yang saya idolakan sejak kecil. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, kerabat dan penerus beliau hingga akhir jaman.
Izinkan saya sebagai seorang guru di pedalaman rawa Kalimantan untuk menyambung tali silaturrahim walaupun lewat dunia maya. Saya sangat senang bapak membuka pintu dialog lewat blog ini. Semoga kami yang dapat belajar dan menyerap berbagai petuah, pemikiran dan pengalaman berharga dari Bapak.
Mengani ajakan Bapak untuk memperbanyak membaca Al-Quran sehingga serasa Al-Quran berbicara kepada kita tentunya membutuhkan llmu pengetahuan alat yakni bahasa Arab. Tapi sungguh sayang beribu sayang kebanyakan anak didik kita tidak menguasai bahasa Arab terutama yang menjalani pendidikan bukan di madrasah. Sekolah umum tidak mempunyai kurikulum bahasa Arab.
Padahal, ya Pak! kita ini mayoritas beragama Islam. Bagaimana mungkin sampai dalam dunia pendidikan, ilmu alat untuk mendalami agama (bahasa Arab) tidak diajarkan. Demikian pula ilmu-ilmu agama lainnya. Apa kita akan terus seperti ini pak! memakai standar sekolah ala barat (kaum kafir) yang mengakibatkan anak-anak kita makin jauh dari agama Islam.
Mohon sumbang pikiran dan dialog dari bapak berkenaan dengan masalah krusial (menurut saya) dalam dunia pendidikan kita saat ini. Jadi kita jangan hanya bicara anggaran pendidikan saja (harus 20%) tapi pikirkan juga kurikulum agar pendidikan agama Islam minimal dapat porsi 50% di semua sekolah. Alasannya agar dunia dan akhirat seimbang (50:50). Begitu lah, Pak, menurut pemikiran saya sebagai orang awam. Bagaimana pendapat Bapak?….
Selamat menunaikan ibadah puasa 1429 H semoga ALlah SWT menerima segala amal ibadah kita.
Ustadz HNW, sungguh Indonesia butuh pemimpin seperti antum. Sudah selayaknya antum memperbaiki kondisi Indonesia yang carut marut sekarang ini, menjadi Indonesia yang madani, beradab dan berbingkai nilai-nilai Islam.
Sayangnya ane rasa antum masih kurang terkenal, dibandingkan tokoh-tokoh lain yang figuristik. Semoga 2009 nanti rakyat Indonesia terbuka mata hatinya, agar memilih pemimpin negeri yang tepat.
Subhanalloh.. tausyiah ustadz membuat kami rindu untuk bermesraan dengan AlQuran.. jazakalloh khoir ustadz..
O iya ustadz sekalian ijin ana tambahkan blog ustadz di link blog ana…
Alhamdulillah mendapat taushiyah dan peringatan seperti ini.
BTW saya mendengar 4 orang yang dirindukan surga, yaitu:
Sabda Nabi Muhammad SAW berikut, “Surga merindukan empat orang : pembaca Al-Qur’an, orang yang mengekang lisannya, orang yang gemar memberi makan orang yang lapar, dan orang yang berpusa di bulan Ramadhan.”
Saya sangat tertarik dengan hadits di atas. Tapi saya belum menemukan sumbernya (mis: HR Bukhari/Muslim).
Adakah ustad bisa memberitahu saya sumbernya dari mana? Japri juga boleh.
Alhamdulillah… saya secara pribadi, diingatkan kembali akan Sombong nya diri kita dihadapan Al Qur’an… betapa tidak, sesuatu yang datang, dan bisa diterima dengan lapang dada, manakala kita bisa mengenal “Sang Tamu Agung” secara lebih mendalam.
Kesibukan & masalah yang kita hadapi dalam perjalan kehidupan ini, terasa begitu berat dan Sang Tamu Agung hadir memberikan jawaban terhadap semua masalah yg kita hadapi.
Yang sering terjadi, kita sebagai makhluk sering lalai, untuk sekedar jujur mengatakan .. bahwa kita terkadang Sombong, untuk “bertanya pada Sang Tamu Agung tersebut”, tentang apa & bagaimana kehidupan itu seharus nya di hadapi.
Bersyukur, kita semua berada di ruang & waktu yg Allah telah memberikan anugrah & Hidayah atas tersedia nya media komunikasi spt ini misalnya, sebab.. jutaan manusia lainnya, sedang tertatih-tatih untuk sekedar mencari sesuap nasi, jutaan manusia lainnya sedang bermacet-macet dijalan raya, dalam tugas suci nya mencari ridho Nya…
Pertanyaan nya, lalu dimana Al Qur’an hadir… Ohhhh.. seperti yg ustadz kata kan, sebaiknya kita berkhusnudzon… mungkin Al Qur’an sudah berada di hati nya…amin.
Ustadz yang bijak,
Saya kira postingan diatas Font size’nya terlalu kecil, atau font face yang kurang pas, jadi kurang nyaman untuk dibaca. Terima kasih.
Ramadhan memang seru pak! juga syahdu…
*ada blog caleg di http://www.royhana.murya.info... PKS lho!… 8=dibolak-balik tetap konsisten
Ass wr wb, Pak Ustad artikel ini bisa ana copy paste ke website ana untuk dipublikasikan disana? (www.rydha.or.id)
luar biasa pak hidayat.. smoga bisa memberikan pencerahan kepada siapa saja yg membaca tulisan ini sehingga bisa beribadah lebih khusyuk dibln ramadahn kali ini
Assalamu Alaikum, mohon maaf saya ikut nimbrung di sini. Bulan Ramadhan memang luar biasa. Bulan ini dapat mengubah segalanya dari karyawan perusahaan sampai artis yang identik dg dunia hiburan bisa (pura-pura) berubah. Ada tarling, ada buka bersama, pakai jilbab, dsb. Artis yg dulu tidak pakai jilbab skrng pakai jilbab(mudah-mudahan tidak ngejar setoran) berarti ada perubahan ke hal positif. Baca Al qur’an bisa jadi target khatam. pokoknya luar biasa. Hanya saja kita mash banyak mendengar para pejabat mash banyak yang korupsi, tidak disiplin kerja, dan enaknya sendiri. Ini ironisnya pejebat tersebut banyak yang muslim, naudzubillah. Semoga bapak Hidayat Nurwahid dapat menjadi motor penggerak pejabat yang baik. Wassalamu alaikum.
Assalamu’alaikum wrwb..
Selamat menjalankan ibadah puasa, Pak. Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin. Amiin..
Terima kasih..
Assalamu’alaikum…
Mungkin ustadz sibuk sekali yaa, jadi janjinya untuk posting artikel tiap hari terbengkalai..
AWW pak Haji
saya salah satu pengunjung blog bapak
kapan ada buah pikiran bapak yang baru, mengenai peristiwa2 disekitar kita saat bulan ramadan ini
bagaimana komentar bapak mengenai pembagian zakat yang mengakibatkan korban sampai meninggal ?
selamat menjalankan ibadah puasa pak.
Assalamualaikum wr.wb. pak Wahid kl bc bahasan-bahasan dari pak Wahid, orang-orang akan selalu mendekatkan diri kepada RobbNya dan merasakan takut pada larangannya, justru yang menjadikan renungan kita ini yang melakukan korupsi dan menerima suap kebanyakannya mengerti akan agama,rajin ibadahnya,sodaqoh dan zakatnya mereka menyalurkannya dengan benar. Apakah ini yang disebut keserakahan manusia yang tak pernah puas apa yang telah dihasilkannya? Mudah-mudahan pak Wahid dapat memberikan keterangan yang lebih lengkap mengenai hal ini. Wassalam.
Bapak yang saya kagumi tolong PKS dalam menentukan Calon2 kepala daerah di lihat CV.nya lebih mendalam…. karena dari sebagian calon2 kepala daerah yg diusung PKS yang pernah datang ke kantor kami dan kami tahu watak & karakter hidup mereka sangatlah tidak Islami………..
demikian masukan dari saya, mohon maaf kalau ada kata2 yg kurang menyenangkan…..
Taqobalallahu Mina Waminkum……
Wassalam,
Marudin
ass.wr.wb
pak ustad sebagai orang islam bagi saya pribadi membaca al-quran adalah wajib hukumnya karena sudah menjadi kebutuhan buat saya setiap harinya,dan saya sudah merasakan nikmatnya dan hikmah nya membaca al-quran dan sebetulnya jika umat islam mau konsekwen / konsisten dengan agamanya tentu alloh akan menolongnya artinya hidupnya akan dicukupi alloh karea sesungguhnya alloh maha ajaib ,yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin…tetapi harus sholat dan sabar tentunya disertai dengan berdo,a dan usaha…..serta tawakkal allalloh silahkan buktikan sendiri tidak lupa setiap saat istigfar kepada alloh ,laksanakan perintahnya dan jauhi larangan…..selamat mencoba……..saya ingatkan sekali lagi ,yang berat yaitu berlaku sabar…..insyah alloh,alloh akan mencukupi kehidupan kita amin-2ya robbal alamin
wassalam mualaikum wr.wb
ustadz mohon bimbingan tentang artikel saya ini…
http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/12/mengancam-allah/
oiya, tentang PKS, karena sering disinggung terus, boleh ikutan menunjukkan sesuatu…
http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/06/dari-24-ke-16-dan-ke-8-dengan-3b-untuk-3m/