Sep 04 2008
Al-Qur’an Kita
Bismillahirrahmanirrahim
Rekan-rekan yang saya cintai,
Assalamu’alaikum wr. wb
Mudah-mudahan anda tidak bosan bertemu dengan saya. Sekali lagi kita bersama-sama mengisi dan menyambut tamu agung kita, bulan Ramadhan ini dengan beberapa hal yang mengingatkan kita kepada nilai-nilai yang selama ini sudah pasti diketahui oleh banyak dari Rekan-rekan yang saya hormati. Karena anda semuanya adalah kalangan profesional yang tidak pernah ingin menjadikan kehidupan kita hanya sesuatu yang tidak ada artinya, tanpa ada nilai unggul, nilai lebih yang kita realisasikan.
Jadi karenanya, Rekan-rekan yang saya hormati, kita semuanya berada dalam kondisi saling berkhusnudzon, saling berbaik sangka. Karena begitulah salah satu dari ajaran dari Al Qur’an tentang Ramadhan. Tetapi sebelum kita jauh membahas tentang bagaimana kandungan Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan ini, yang merupakan aktivitas utama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selama beliau mengisi dan menemui tamu agung ini. Memang begitulah dalam riwayat-riwayat hadis disebutkan kegiatan utama Rasulullah selama satu bulan Ramadhan adalah membaca Al qur’an, tetapi Rasulullah tidak seperti banyak diantara kita yang orientasinya hanya sekedar bersicepat mengkhatamkan Al Qur’an. Kadang diantara kita muncul pertanyaan selama bulan Ramadhan ini sudah khatam Al Qur’an belum? berapa kali anda mengkhatamkan Al Qur’an? Pertanyaan yang baik-baik saja bila maksudnya adalah mengingatkan agar kita tidak alpa membaca Al Qur’an. Tapi sekedar mengkhatamkannya, tidak kemudian menghadirkan sikap jiwa, perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Al Qur’an, ada sesuatu hal yang harus selalu kita kritisi.
Jadi, Rekan-rekan yang saya hormati, Al Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah selama satu bulan Ramadhan ini mengantarkan kepada kita tentang satu tujuan utama dari hadirnya bulan Ramadhan. Apa itu? Kemarin sudah kita bahas, yaitu menghadirkan manusia-manusia unggulan, manusia yang bertaqwa. Manusia unggulan dan bertaqwa itu salah satu kegiatan utamanya adalah memaksimalkan diri, memompa semangat, mengisi kehidupan, mewarnai diri dan kehidupannya dengan nilai-nilai Al Qur’an. Itulah karenanya Rasulullah menyampaikan ungkapan yang sangat-sangat bagus “Khairukum man ta’allamal qur’ana wa ‘allamakum” , yang paling baik dari anda semuanya adalah yang membaca, yang mempelajari Al Qur’an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain.
Tentu saja, Rekan-rekan yang saya hormati, tidaklah mungkin kita bisa mempelajari Al Qur’an tanpa membacanya dan tidaklah mungkin kita mengajarkan Al Qur’an kalau kita tidak mengerti isi Al Qur’an. Apa yang mau diajarkan kepada orang lain? Kita tahu dalam kehidupan kita sehari-hari, siapapun yang kita sebut, apakah namanya ustadz atau guru atau dosen atau trainer atau siapa saja, kita percaya pada mereka, mendengarkan masukan dari mereka karena kita persepsikan mereka mengetahui apa yang mereka sampaikan, mereka mengertinya. Dan sekali lagi, mereka bisa mengerti, mereka bisa mengetahui karena sebelumnya melalui proses belajar.
Proses belajar mengajar dan kemudian menghadirkan kondisi anda menjadi orang yang utama, orang yang unggulan, step, langkah-langkah menuju kepada insan yang bertaqwa itu, salah satu diantaranya melalui bacaan membaca Al Qur’an. Inilah satu kondisi yang selama bulan Ramadhan ini begitu rupa menghiasi ruang-ruang kehidupan kita, ruang-ruang dengar kita, ruang-ruang baca kita, luar biasa. Dan ini tentu saja dalam konteks sosial kita membuat kita akrab dengan Al Qur’an, tidak asing dengan Al Qur’an. Bahkan mudah-mudahan juga membuat kita menjadi jatuh cinta kepada Al Qur’an. Sebagai seorang yang sudah mau dan rela berpuasa karena iman kepada Allah, mengikuti sunnah Rasulullah merubah seluruh agenda kehidupannya untuk kemudian mengikuti pola hidup, pola laku berpuasa, adalah layak bila kita bertanya dan menggugat diri kita sejauh mana cinta kita kepada Al Qur’an.
Dalam kosakata Indonesia ada ungkapan yang dekat dengan Al Qur’an, itulah koran. Saya tidak tahu apakah koran memang diambilkan dari Al Qur’an, tetapi yang jelas dua-duanya menghadirkan informasi, dua-duanya menghadirkan sesuatu yang dibaca, dua-duanya bisa membawa kepada hadirnya informasi yang baru yang memungkinkan kita mengajarkannya kepada orang lain. Tetapi rasa-rasanya kita harus bertanya, kalau setiap hari kita membaca koran, bahkan mungkin tidak hanya satu koran, mungkin bahkan tidak hanya satu halaman, mungkin seluruh halaman kita baca. Setiap hari bahkan kita rindu pada loper koran. Kita menunggu-nunggu kedatangannya. Kadang kita pertanyakan kenapa anda terlambat? Kita boleh bertanya bagaimana sikap kita terhadap Al Qur’an, serindu itukah? seserius itukah kita membaca Al Qur’an? Berapa lembar Al Qur’an setiap hari kita baca? Apakah kita merasa rindu dan merasa ada sesuatu yang kurang kalau kita tidak membaca Al Qur’an?
Saya tanyakan ini karena saya pun pembaca koran. Saya juga tidak kurang dari lima koran setiap hari saya baca. Saya merasakan bagaimana kalau saya satu hari tidak membaca koran. Saya sering mempertanyakan kalau pada jam tertentu dimana koran sudah harus datang ke tempat saya tapi belum datang, saya akan pertanyakan kenapa anda tidak datang, karena saya memang memerlukan informasi yang terus membaharu agar kita bisa menyikapi seluruh perkembangan juga dengan cara-cara yang membaharu. Alhamdulillah setiap hari saya juga membaca Al Qur’an yang bisa 1 juz, bisa setengah juz, itu artinya lebih dari 15-an halaman.
Saya hanya ingin mengatakan bahwa sesibuk apapun kita, sesungguhnya kita masih selalu punya waktu untuk membaca Al Qur’an. Mengapa? karena analog sederhana, sesibuk apapun, kita masih membaca koran juga. Masa iya sih, kita profesional muda, kita kalangan orang yang berani merubah sikap hidup kita, ingin merealisasikan tujuan utama dari kehidupan dengan menggapai nilai-nilai taqwa, kemudian kita tidak meluangkan waktu? Bukan, sesungguhnya mungkin kata meluangkan waktu pun kurang tepat. Kita memprogramkan untuk kemudian mementingkan ada waktu untuk membaca Al Qur’an, mengerti Al Qur’an, agar kita bisa menyebarluaskan nilai-nilai Al Qur’an.
Ini adalah suatu tangga berikutnya merealisasikan tujuan utama, tujuan mulia dari hadirnya Ramadhan. Yaitu menjadi insan yang utama, manusia unggulan, manusia yang berkualitas. Bagaimana? Berapa lembar Al Qur’an yang sudah anda baca pada hari ini dan kemarin? Okelah, besok masih ada waktu untuk membaca Al Qur’an. Jumpa kembali.
Assalamu’alaikum wr.wb.
tulisan yang bagus Pak.. terkadang memang kita selalu bisa meluangkan waktu untuk membaca koran, buku, majalah, bahkan browsing internet berjam-jam..
sekarang saatnya kita selalu meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran disetiap harinya..
Pa Hidayat, setelah membaca tulisan Bapa, saya kok jadi sedih nih… betapa selama ini saya lebih mementingkan koran dibanding Qur’an.
Terima kasih pencerahannya….
he..he..jadi malu nih….
Alhamdulillah…..kalau begitu mari kita buka kembali lembaran-lembaran mushaf kita untuk menyegarkan kembli ruhani kita agar dapat menghadirkan suasana sejuk dalam kehidupan kita ini.
Subhanaullah…….
Sungguh tulisan yang sangat menggugah perasaan…. bener sekali yang ustad katakan kadang koran sudah menjadi kebutuhan wajib yang mesti kita baca setiap hari sedangkan Al quran kadang hanya seminggu sekali di sentuh. InsyaAllah mulai sekarang saya akan menjadikan Alquran bacaan favorite saya, setidaknya selam bulan suci romadhan, Amin
Iya.
Mudah2an Allah SWT menguatkan kita sehingga bisa membaca, mempelajari, mengamalkan, dan mengajarkan Al Qur’an ke yang lain. Amiiin.
AlQuran is Our Life’s map, Road to end journey. AlQuran is not Koran like the western people say. Koran is koran. It’ s beautiful If all of houses have been complete with Alquran.
Back To AlQuran, Back To Islam
Back To Masjid, Back To Islam
Beutiful content
http://ardiansyahputra.wordpress.com
Back to qur’an…
Makasih ustadz atas remindernya
emang lain tokoh kita yang satu ini. layak sebagai contoh masyarakat kita yang super krisis ini.
Saatnya kita kembali ke Al-Qur’an, ….
Assalamu’alaikum….
Jazakumullah khairan ust. Hidayat. Membaca tulisan ust. saya sperti menemukan oase indah di tengah padang pasir. Doakan kami dan teman2 di Saudi agar tetap istiqamah di jalan Allah. Amiin.
Mohon do’a antum ust. Semoga ana dan kita semua tidak termasuk meninggalkan dan menjauhkan Al Qur’an.
Ustadz memang benar, hanya sesekali saya merindukan membaca Al Qur’an, pertanyaanya “apakah saya termasuk orang yang sia-sia jika saya lebih banyak membaca koran daripada mengaji Al Qur’an?”
Saya dapat info bahwa KPU akan ke 14 negara untuk “Sosialisasi” Pemilu dengan biaya Rp 14 milyar lebih. Setiap negara rp 1 milyar.
Padahal di zaman teknologi sekarang ini, hal itu pemborosan. Jika mau, KPU tinggal mengupload materi/presentasi tentang Pemilu ke websitenya di http://www.kpu.go.id. Sehingga setiap orang bisa download. Jika ada yang kurang jelas, kan bisa bertanya via email atau blog seperti ustad sekarang.
Atau separah2nya, setiap KBRI tinggal mengirim 1 utusan untuk ditraining soal Pemilu. Paling banter per negara biayanya hanya Rp 20 juta atau hemat 50 kali lipat.
Rencana KPU untuk ke LN ini pemborosan. Padahal pemborosan sangat dikecam Allah:
”Berikanlah kepada keluarga dekat haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]
Padahal uang itu bisa dipakai untuk membangun rumah singgah bagi anak2 jalanan.
Misalkan ada dana Rp 140 juta per rumah singgah, itu bisa digunakan minimal mengontrak rumah selama 3 tahun beserta gaji satu pengasuhnya. Rumah ini minimal bisa menampung 20 anak. Dengan Rp 14 Milyar bisa disewa 100 rumah singgah yang dapat menampung 2000 anak jalanan.
Saya kasihan sekali melihat anak2 umur 5-12 tahun yang terpaksa mengamen di jalanan. Mereka rawan terhadap kejahatan seperti perkosaan dan sodomi. Adakah yang mau menolong mereka?
Mudah2an ustad selaku Ketua MPR mau mengingatkani KPU soal ini.
Betul sekali Pak ustat…..jaman sekarang orang lebih suka baca buku2 yang lain, Al-Quran hanya buat pajangan semata…..sungguh prihatin sekali saya melihatnya.
& juga banyak orang sekarang banyak terjebak dengan Hadis….dimana banyak sekali sebenarnya perbedaannya dengan Al-Quran.
SalamunAllaikum
Rosul
Saya setuju dengan saudara agus……..mohon lebih diperhatikan rakyat-rakyat bawah pak dan tetap istiqomah……..Ingatlah bagaimana Umar bin abdul azis tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak dan menangis mengingat rakyatnya………Semoga Allah melancarkan usaha ustadz dalam menegakkan Agama Allah di bumi Indonesia ini dan menjadi rahmat buat seluruh alam…Amin.
Makasih Pak Ustadz, saya jadi tergerak lagi untk membuka lembar-lembar suci ayat al-quran.
Pak Ustadz, apakah sama nilainya kita membaca al-quran dengan kita mendengarkan al-quran dari kaset atw MP3 player sambil kita mengikutinya.
Mungkin Pak Ustadz bisa menjelaskan. Terima kasih.
Alhamdulillah … masih ada di antara kita seorang pemimpin yang mengingatkan kita untuk selalu membaca Al-Qur’an (sebagai pedoman hidup) dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih Ustad
Mas Junaidi, tentu tidak sama antara mendengarkan dengan membacanya, yang jelas membacanya lebih afdhal karena memang disyariatkan begitu sedangkan mendengarkannya tetap mendapat kebaikan atau pahala orang yang mendengarkan alquran.
Syukron ustadz udah ngingetin kami
Oia utk memperlancar baca al-Quran bisa dgn ikut Tahsin ya ustadz? Ada referensi tempatny? Krn ktny akan dbimbing lgsg cara bacanya..
Mudah2an detikblogers smakin rajin mengkaji al-Quran, aamiin..
Assalamu’alaikum.
Ust. kiprah dakwah antum di pemerintahan ane dukung. negara ini perlu sosok-sosok seperti antum. ane salut sama antum yang mau menyediakan waktu buat nge-blog, tranfaransi dan kedekatan antum sama rakyat (masyarakat dunia maya terutamanya) bisa lebih erat. salam dari Mahasiswa Ma’had ‘Ali Li I’dad Du’at An-Nu’aimy jakarta, kami bahagia antum berkenan menyampaikan orasi ilmiah saat kami diwisuda. innalladzi ya’isyu lil ummati kabirun walan yamut abadan
wassalam.
Ass. Pak Hidayat, …. tulisan dan tingkah laku Bapak sangat menyejukkan. Andai di negeri ini para petingginya seperti Bapak, mungkin suasananya pun semakin sejuk. Tidak gontok-gontokan, tidak saling menjelekkan, …….. Saya memimpikan Bapak lah yang pantas jadi presiden 2009, ….
kaLau baca tapitidak mengerti,itu sama dg lihat gambar. Mungkin akan lebihbaik kalau ada kursus cepat mengartikan Al Quran. Sehingga selanjutnya bisa menerapkan dan mengajarkan. kalo ada saya daftar langsung. wass.
Assalamualaykum
Alhamdullilah, semoga semakin banyak umat Nabi Muhammad yang menjadi pemimpin negri ini dan tidak melupakan dakwah di jalan Alloh. Ustad, saya belum tahu mau salurkan kemana,.. keresahan saya pribadi atas disebarkannya situs blog yang menfitnah muhammad, islam dan alquran. saya tidak menulis link disini takutnya masuk list google. mungkin bisa via email saya atau jika sudah pernah mengetahui mohon kebijakannya membantu menutup atau paling tidak memberi kejelasan kepada umat untuk menguatkan iman kita.
walaykumusalam.
benar sekali Pa’Ustadz,
sehari saja tak membaca Al-QUr’an, rasanya ada yg lain diahti ini, serasa ada yg kurang, mengganjal, dan mendesak serta menuntut untuk ke arah tersebut(mengingat Allah-red).
semoag pemimpin kita terus berupaay mendekatkan bangsanya pada koridor yg benar dan di Ridhoi’ Allah tentunya.
AMin…
Alhamdulillah,Bapak sudah mengingatkan tentang memanfaatkan waktu untuk membaca AlQoran.tapi kalau membacanya tidak begitu lancar dan masih terbata-bata,apa pahalanya memang dilipat gandakan?.
Jadi malu saya pak.. bapak yang super sibuk masih nyempetin baca ampe 1 juz.. Mohon do’anya pak biar saya dan keluarga tetap istiqomah didalam Islam..
—————————————————————————–
“Mudah-mudahan taon depan bapak jadi Presiden RI”
—————————————————————————–
nb..
fotonya cool, kayanya bagus nich saya jadiin wallpaper, minta izin di copy pak.?? boleh ya.. boleh kan.. boleh donk..
Allah SWT memuliakan Ramadhan dengan turunnya Al Quran, Di dalam Surat Al Baqarah 185, ayatnya berbunyi ” Bulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Quran , Petunjuk manusia. pembeda antara yang Haq dan Bathil. Arti dari ayat ini bisa kita simpulkan Alquran sebagai sumber ajaran Agama Islam bukan saja membawa rahmat dan kebaikan bagi umat Islam saja melainkan juga sebagai pembawa kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia serta Alam semesta. Itulah sebabnya di ayat tadi disebutkan “Hudallinnas”. Hanya perbedaannya adalah , bahwa umat Islam dijanjikan mendapatkan keselamatan dan kebaikan di dunia dan di Akhirat, sedangkan orang diluar Islam hanya mendapatkan kebaikan atau kesuksesan di dunia saja. Sebagai contoh adalah Puasa yang dijalankan orang Islam juga dapat memberikan kesehatan kepada orang yang menjalankannya termasuk orang non Islam dan itu diakui oleh para ahli dan pakar kesehatan di Barat yang mengadakan penelitian tentang manfaat puasa. Ayat lain di dalam Al Quran yang memerintahkan agar menusia memikirkan merenungkan dan melakukan penelitian serta eksplorasi alam semesta serta fenomana yang ada di lanngit dan di bumi seperti Qs: 3 : 190 secara nyata banyak diljalankan oleh orang Barat. terbukti bahwa mereka saat ini memiliki keunggulan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hikmah yang lain adalah bahwa Alquran adalah sebagai petunguk dan pembeda antara yang Haq dan yang batil, antara yang haram dan Halal, antara yang benar dan salah . ujuannya adalah agar terbangun keharmonisan , kesejahteraan dan ketentraman dalam kehidupan manusia. Keteraturan hidup hanya dapat dibangun oleh seperangkat sistem dan aturan yang jelas yang dijalankan oleh manusia untuk kepentingan dirinya sendiri. Alangkah ironis apabila keunggulan dari ajaran Islam itu justru diamalkan dan dilaksanakan oleh orang - orang diluar Islam. Wallauhuallam bisshawab
bagus sekali pak ustads, tapi saya mo tanya nih pak. mungkin banyak diantara kita yang sudah membaca al-quran, tapi kok di kehidupan masyarakat tidak ada hukum yang berlandaskan al-quran!!!!!!
al-quran itu kan pedoman hidup manusia yang berisi petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang batil, dan juga isinya perintah dan larangan. tapi kok perintah dari Allah itu banyak yang tidak dilaksanakan oleh manusia.
seperti sekarang ini, betapa dunia tidak kacau balau. hukum hidup manusia yang paling benar kan dari al-quran, tapi kok malah manusia menggunakan hukum buatan manusia. bukankah jika kita menggunakan hukum selain daripada hukum Allah itu disebut sebagai orang2 yang sesat.
seperti tersurat dalam qs.4/60, 5/44,45,dan 47. disitu kan jelas sekali pak ustadz, barang siapa tidak menggunakan hukum berdasarkan hukum Allah disebut sebagai orang yang sesat, kafir, dzolim, dan fasik.
jadi pak ustadz saya ada usul nih, seharusnya kita sekarang jangan hanya membaca al-quran saja. tapi juga fahami arti dan maknanya dan juga laksanakan apa yang diperintahnya dan jauhi larangannya. he he maaf pak kepanjangan.
wassalamualaikum wr.wb
assalam mualaikum.wr.wb
pak ustad ,mayoritas penduduk indonesia islam tetapi mengapa aturan-2yang dibuat kok kurang islami / qur,ani justru kalau ada umat islam yang bertindak / berunjuk rasa atas nama agamanya aparat cenderung represif tetapi kalau yang unjuk rasa orang-2 yang tidak jelas / unsur subversip seolah-olah baik-2 saja tidak ada reaksi dari aparat ,contoh unjuk rasanya kaum separatis irian ,rms, antek-2nya asing,yang berdalih ham,terorisme serta unjuk rasa-unjuk rasa lain yang dibiayai kaum subversif…..apakah pak ustad sudah memberikan andil agar pemerintah lebih arif dan bijaksana……….sebelum dan sesudah nya kami ucapkan terima kasih pak ustad…selamat berjuang.
wassalam mualaikum wr.wb
assalamu’alaikum wr wb.
Ustd Dayat yg penuh keteladananan.
Bagus sekali Ustd u terus menghimbau agar bangsa Indonesia makin dalam membaca qur’an, mengambil makna sehingga terwujud Indonesia cinta qur’an. Muslim terpandu qur’an dengan sebenarnya . qatam quran- qatam bacaanya dan terjemahnya.
siapa lagi yg mengambil pelajaran dari quran kalau bukan kita(muslim).
Ayo Indonesia cinta quran
Indonesia bergerak dengan qur’an.
salam ustadz smg keberkahan.
wassalamu’alaikum wr wb.
http://www.iq-sukses.net
Subhänalläh!
Ustadz,mampir donk ke blog ana, http://www.silmikaffa.wordpress.com(msh gersang,baru belajar)… Disitu ada moto TIADA HARI TANPA AL-QUR’AN, yg juga moto pengajian ana.Ana mengajar tahsin tilawah di Hubdam III Siliwangi & privat keliling di Bandung.Kenyataan yg ada, alqur’an hanya jadi ‘WAKTU LUANG’ bagi kebanyakan keluarga yg ana kenal.Sudah saatnya Al-qur’an menjadi WAKTU WAJIB! Malu sama Alläh, mengaku muslim,tapi tak kenal kitabnya.
Smoga ustadz ga bosen ngasih pencerahan buat kami.
Assalamualaikum pak,
mau tanya bagaimana hukumnya kalau kerja sambil mendengarkan lantunan Al Quran ? kerja saya tidak lepas dari komputer, dengan niat untuk menyejukkan hati maka saya sering sambil mendengarkan lantunan Al Quran.
mohon pencerahan, Terima kasih.
Wassalam
Aditya
Assww
Terimakasih Ustad, tulisannya benar benar menyentak saya. Saya sering berfikir terlalu effisien, rupanya keliru. Padahal kalau sudah mulai, seringkali mau terus tapi konsistensi yg masih kurang. Setelah ini akan saya coba praktekkan. Semoga.
Asm,
Pak, bagaimana cara meneguhkan hati seseorang yang sering goyah pada pendapat ataupun prinsipnya?